Aktivis Pembongkar Korup Pelindo Dibunuh, Pelaku&Kasus Akan Lama Diselidiki Hingga Lupa
Ermanto Usman (65), seorang pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT), tewas setelah diserang oleh orang tak dikenal di kediamannya di kawasan Jatibening, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (2/3/2026). Dalam insiden tersebut, istrinya, Pasmilawati (60), turut menjadi korban dan kini masih menjalani perawatan dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Ermanto dikenal sebagai aktivis pekerja pelabuhan yang selama bertahun-tahun aktif memperjuangkan isu buruh sekaligus mengungkap dugaan praktik korupsi di sektor kepelabuhanan. Anggota DPR RI Komisi XIII yang juga Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI), Rieke Diah Pitaloka, menyebut almarhum sebagai sosok penting dalam upaya membongkar kasus dugaan korupsi yang pernah menyeret nama mantan Direktur Utama Pelindo II, RJ Lino.
Menurut Rieke, Ermanto sebelumnya sempat diberhentikan dari pekerjaannya di JICT dalam konteks kasus dugaan korupsi tersebut. Saat itu DPR membentuk Panitia Khusus (Pansus) Pelindo untuk mengusut perkara yang diperkirakan menimbulkan kerugian negara hingga triliunan rupiah, bahkan berpotensi mencapai puluhan triliun jika dihitung berdasarkan nilai masa depan.
Selama hidupnya, Ermanto aktif di Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI) yang berada di bawah naungan KRPI. Meski telah pensiun, ia tetap konsisten menyuarakan pemberantasan korupsi di sektor pelabuhan. Rieke menyebut, belakangan ini almarhum berupaya membuka kembali sejumlah kasus lama yang diduga sengaja dihentikan atau tidak dilanjutkan proses hukumnya.
Sekitar sebulan sebelum meninggal dunia, Ermanto juga sempat tampil dalam sebuah podcast untuk membahas kembali dugaan korupsi terkait global bond dan proyek Kalibaru yang disebut merugikan negara.
Kematian Ermanto meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus memunculkan sejumlah tanda tanya. Rieke mengungkapkan bahwa almarhum sempat menunjukkan tanda-tanda merasa terancam. Pada Februari lalu, ia bahkan mengirim pesan kepada keluarganya yang berisi permintaan maaf dan meminta agar segala sesuatu diikhlaskan jika terjadi sesuatu pada dirinya. Ia juga berpesan kepada anak-anaknya agar menghubungi Rieke apabila terjadi hal buruk.
Selain itu, Rieke menilai peristiwa tersebut janggal karena tidak menunjukkan ciri perampokan. Di lokasi kejadian tidak ditemukan barang berharga yang hilang, termasuk perhiasan yang berada di kamar maupun yang dikenakan korban. Pelaku hanya mengambil telepon genggam, dompet, dan dua kunci mobil milik korban.
Ia pun mendesak aparat kepolisian melakukan penyelidikan secara mendalam, tidak hanya menangkap pelaku di lapangan tetapi juga mengungkap kemungkinan adanya pihak lain yang menjadi dalang di balik peristiwa tersebut.
Sementara itu, keluarga korban berencana mengajukan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), terutama bagi anggota keluarga yang masih hidup, termasuk istri Ermanto yang saat ini masih dalam kondisi kritis.




