Demo MBG di Pati, Beri Contoh Jangan Diam jika Kedzoliman Terjadi

Demo MBG di Pati, Beri Contoh Jangan Diam jika Kedzoliman Terjadi

Gelombang kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) kian menguat setelah sejumlah menu yang diterima siswa ramai diperbincangkan di media sosial. Foto dan video yang menampilkan isi paket makanan dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang disampaikan pemerintah, sehingga memicu polemik di berbagai daerah.

Pada Jumat (27/2/2026), setidaknya dua aksi unjuk rasa digelar untuk menyoroti pelaksanaan program tersebut, masing-masing di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Aksi di SPPG Tlogowungu 1 Pati

Di Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, sekelompok warga yang tergabung dalam Aliansi Warga Tlogowungu Bersatu menggelar aksi di depan SPPG Tlogowungu 1. Aksi yang diikuti tujuh orang itu bermula dari GOR Tlogorejo sebelum massa bergerak menuju lokasi dapur layanan guna menyampaikan aspirasi.

Koordinator aksi, Muhammad Ali Sobbri, mempertanyakan kesesuaian antara anggaran pemerintah dengan menu yang diterima siswa. Ia menyebut paket makanan yang dibagikan hanya terdiri dari satu jeruk kecil, empat butir telur puyuh, dan satu roti kering. Menurutnya, jika dihitung berdasarkan harga pasaran, nilai paket tersebut sekitar Rp5.000, sementara anggaran disebut mencapai Rp8.000 per paket.

Selain persoalan harga, warga juga menyoroti kualitas buah yang dibagikan, dengan adanya laporan jeruk yang dalam kondisi kurang baik. Mereka juga mempertanyakan ketersediaan tenaga ahli gizi di lokasi untuk memastikan kelayakan makanan sebelum didistribusikan.

Kepala SPPG Tlogowungu 1, Fikky Adrian Listyanto, menegaskan pihaknya bekerja sesuai pagu anggaran sebesar Rp7.900 per paket dan mengikuti ketentuan yang berlaku. Ia menyebut layanan tersebut mencakup 35 sekolah dan proses distribusi masih berlangsung saat aksi terjadi. Operasional sempat dihentikan sementara untuk menghormati aspirasi warga dan media.

Kapolsek Tlogowungu, Iptu Mujahid, memastikan aksi berjalan aman dan kondusif tanpa insiden berarti.

Demo di DPRD Bulukumba Berujung Ricuh

Di Bulukumba, Sulawesi Selatan, aksi yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di depan gedung DPRD setempat berakhir ricuh. Massa menyoroti dugaan manipulasi atau mark up anggaran program MBG.

PMII mengklaim memiliki bukti percakapan yang menunjukkan adanya praktik penggelembungan harga bahan pokok oleh supplier sebelum masuk ke satuan pelayanan. Dugaan mark up disebut terjadi pada komoditas beras dan daging ayam, dengan harga pada nota pembelian lebih tinggi dibanding harga pasar.

Mahasiswa juga menyebut realisasi menu makan siang di salah satu sekolah hanya bernilai sekitar Rp7.000. Mereka mendesak DPRD Bulukumba melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mitra pengelola program serta meminta pencopotan koordinator wilayah yang dinilai lalai dalam pengawasan.

Aksi sempat memanas hingga terjadi saling dorong antara massa dan aparat keamanan sebelum akhirnya situasi dapat dikendalikan.

Gelombang kritik ini menambah daftar sorotan terhadap pelaksanaan program MBG di sejumlah daerah, terutama terkait transparansi anggaran dan kualitas makanan yang diterima siswa.